IMAM SUPRAYOGO DAN POHON ILMU
“Integrasi ilmu, bagi Imam Suprayogo, bukan proyek akademik, melainkan visi peradaban.”
Dalam lanskap pendidikan tinggi Islam di Indonesia, nama Profesor Dr. H. Imam Suprayogo menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya rektor yang berhasil membesarkan institusi, tetapi pemimpin pemikiran yang mengubah cara pandang tentang ilmu, pendidikan, dan masa depan perguruan tinggi Islam. Jejak kepemimpinannya; dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), IAIN Malang, STAIN Malang, hingga menjelma menjadi UIN Malang, lalu UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; menunjukkan konsistensi visi: membangun manusia seutuhnya melalui integrasi ilmu dan nilai.
Fondasi Kepemimpinan: Dari UMM hingga IAIN Malang
Pengalaman kepemimpinan Imam Suprayogo berakar kuat sejak kiprahnya di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di lingkungan perguruan tinggi swasta Islam yang dinamis, ia ditempa oleh realitas manajemen modern, tuntutan mutu akademik, serta kebutuhan membangun kepercayaan publik. Pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinannya yang pragmatis namun visioner; tegas dalam kebijakan, tetapi berorientasi jangka panjang.
Ketika berkiprah di IAIN Malang, tantangan yang dihadapi berbeda. IAIN saat itu masih berada dalam bayang-bayang dikotomi klasik antara ilmu agama dan ilmu umum. Di sinilah Imam Suprayogo mulai merumuskan gagasan besar tentang integrasi keilmuan. Ia melihat bahwa pendidikan Islam tidak cukup hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga harus mampu mencetak ilmuwan, profesional, dan pemimpin yang berakar pada nilai spiritual dan akhlak.
Transformasi STAIN ke UIN: Kepemimpinan yang Melampaui Administrasi
Puncak kepemimpinan Imam Suprayogo tercermin saat memimpin STAIN Malang dan mengantarkannya bertransformasi menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Transformasi ini bukan sekadar perubahan status kelembagaan, melainkan perubahan paradigma pendidikan secara menyeluruh. Ia membangun UIN bukan dengan meniru universitas umum, tetapi dengan merancang model khas perguruan tinggi Islam modern yang berdaya saing global.
Dalam proses ini, Imam Suprayogo dikenal sebagai pemimpin yang berani mengambil kebijakan tidak populer namun strategis. Ia menempatkan pembinaan karakter, spiritualitas, dan disiplin akademik sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly: Jantung Pembinaan Karakter
Salah satu kebijakan paling monumental adalah penguatan Ma’had Sunan Ampel Al-‘Aly. Ma’had tidak diposisikan sebagai asrama biasa, melainkan sebagai ruang pembentukan kepribadian akademik-spiritual mahasiswa. Di sinilah mahasiswa UIN Malang ditempa untuk hidup disiplin, mandiri, religius, dan berakhlak.
Kehidupan ma’had dirancang untuk membentuk habitus ilmuwan Muslim: shalat berjamaah, kajian kitab, pembiasaan adab, serta budaya belajar yang kuat. Imam Suprayogo meyakini bahwa keunggulan akademik tanpa kedalaman spiritual akan melahirkan intelektual kering nilai.
Program Intensif Bahasa Arab: Kunci Akses Ilmu dan Peradaban
Kebijakan strategis lain adalah program intensif bahasa Arab (dan bahasa asing lainnya). Bahasa dipahami bukan sekadar alat komunikasi, tetapi kunci akses peradaban dan literatur keilmuan. Melalui program ini, mahasiswa didorong untuk menguasai bahasa Arab sebagai bahasa sumber ilmu Islam, sekaligus bahasa global untuk dialog keilmuan lintas bangsa.
Kebijakan ini memperkuat identitas UIN Malang sebagai kampus yang serius membangun keunggulan akademik berbasis literasi global dan tradisi ilmiah Islam.
Pohon Ilmu: Metafora Integrasi Keilmuan
Gagasan paling ikonik dari Imam Suprayogo adalah konsep integrasi ilmu dengan metafora Pohon Ilmu. Dalam metafora ini, ilmu agama menjadi akar yang menghujam kuat, menopang batang dan cabang berupa ilmu-ilmu modern (sains, teknologi, sosial, dan humaniora) yang kemudian berbuah kemaslahatan.
Konsep ini melahirkan empat keunggulan utama yang menjadi orientasi pendidikan UIN Malang:
1) Kedalaman spiritual, yang menumbuhkan kesadaran transendental dalam setiap aktivitas keilmuan; 2) Keagungan akhlak, sebagai fondasi etika akademik dan sosial; 3) Keluasan ilmu, yang mendorong penguasaan multidisiplin dan keterbukaan intelektual; dan 4) Kematangan profesional, yang menyiapkan lulusan berdaya saing dan bertanggung jawab di ruang publik.
Keempat keunggulan ini dirancang saling menguatkan, bukan berdiri sendiri. Inilah inti integrasi ilmu yang diperjuangkan Imam Suprayogo.
Karya dan Warisan Intelektual
Selain sebagai pemimpin institusi, Imam Suprayogo juga produktif menulis. Karya-karyanya banyak membahas pendidikan Islam, integrasi ilmu, manajemen perguruan tinggi, dan pembangunan karakter, antara lain:
· Suprayogo, I. (2004). Pendidikan berparadigma Al-Qur’an: Pergulatan membangun tradisi dan aksi pendidikan Islam. Malang: UIN Malang Press.
· Suprayogo, I. (2005). Universitas Islam unggul: Refleksi pemikiran pengembangan kelembagaan. Malang: UIN Malang Press.
· Suprayogo, I. (2006). Paradigma pengembangan keilmuan Islam: Perspektif UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Malang: UIN Malang Press.
· Suprayogo, I. (2006). Memelihara sangkar ilmu: Refleksi pemikiran dan pengembangan UIN Malang. Malang: UIN Malang Press.
· Suprayogo, I., & Rasmianto. (2008). Perubahan pendidikan tinggi Islam: Refleksi perubahan IAIN/STAIN menjadi UIN. Malang: UIN Malang Press.
· Suprayogo, I. (2010). Manajemen perguruan tinggi Islam berbasis nilai. Malang: UIN Malang Press.
· Suprayogo, I. (2014). Menghidupkan jiwa ilmu. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Buku dan tulisan ilmiahnya menjadi rujukan penting bagi akademisi dan praktisi pendidikan Islam, terutama dalam merumuskan arah pengembangan UIN dan PTAI di Indonesia.
Warisan terbesarnya bukan hanya deretan buku atau kebijakan, tetapi cara berpikir baru tentang pendidikan Islam; bahwa universitas Islam harus menjadi pusat keilmuan, moralitas, dan profesionalisme sekaligus.
Inspirasi yang Terus Tumbuh
Profesor Imam Suprayogo telah menanam Pohon Ilmu yang akarnya menghujam nilai, batangnya kokoh oleh ilmu, dan buahnya dirasakan lintas generasi. Kepemimpinannya mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari visi yang jernih, keberanian mengambil risiko, dan konsistensi pada nilai.
Dalam dunia pendidikan yang kerap terjebak pada target administratif, sosok Imam Suprayogo mengingatkan kita bahwa hakikat kepemimpinan akademik adalah menumbuhkan manusia dan peradaban: pelan, mendalam, dan berkelanjutan.

0 Comments