MUHAIMIN DAN PENDIDIKAN ISLAM INTEGRATIF


Pendidikan Islam harus hadir sebagai proses pemanusiaan manusia: mendidik akal, membina hati, dan menuntun tindakan 

Di tengah arus perubahan sosial, globalisasi ilmu pengetahuan, dan tantangan disrupsi nilai, pendidikan Islam dituntut untuk terus berbenah. Ia tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan zaman. Dalam konteks inilah sosok Profesor Muhaimin hadir sebagai figur penting: seorang ulama intelektual yang tidak hanya memikirkan pendidikan Islam dalam tataran normatif, tetapi juga membumikan gagasannya dalam kebijakan, kurikulum, dan praksis kelembagaan.

Profesor Dr. H. Muhaimin, M.A. lahir di Lumajang, Jawa Timur, pada 11 Desember 1956. Ia tumbuh dalam keluarga Muslim yang menanamkan nilai religiusitas, kesungguhan belajar, dan penghormatan terhadap ilmu sejak dini. Lingkungan keluarga dan sosial tempat ia dibesarkan membentuk karakter kepribadiannya yang disiplin, rendah hati, dan memiliki kepedulian kuat terhadap dunia pendidikan. Dari akar inilah kelak tumbuh orientasi hidupnya sebagai pendidik dan pemikir pendidikan Islam.

Riwayat pendidikan Prof. Muhaimin mencerminkan perjalanan intelektual yang panjang dan konsisten. Pendidikan dasarnya ditempuh melalui jalur madrasah dan pendidikan keagamaan formal, sebelum melanjutkan studi di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Di institusi inilah ia mulai menekuni secara serius bidang pendidikan Islam. Studi magisternya diselesaikan di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebuah pusat kajian keislaman yang dikenal dengan tradisi intelektual kritis dan dialogis. Di tempat yang sama, ia meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Filsafat Pendidikan Islam Indonesia: Suatu Kajian Tipologis”. Disertasi ini menjadi fondasi epistemologis bagi seluruh bangunan pemikiran pendidikannya di kemudian hari.

Sebagai akademisi, Prof. Muhaimin memulai kariernya dari bawah: sebagai dosen, pengelola fakultas, hingga menduduki berbagai jabatan strategis di lingkungan IAIN, STAIN, dan UIN Malang. Ia pernah menjabat sebagai Pembantu Dekan Fakultas Tarbiyah, Pembantu Rektor Bidang Akademik, hingga Direktur Program Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Riwayat jabatan ini tidak sekadar mencerminkan kepercayaan institusional, tetapi juga memperlihatkan konsistensinya mengawal mutu akademik dan arah pengembangan pendidikan tinggi Islam.

Dalam seluruh kiprahnya, Prof. Muhaimin dikenal sebagai pemikir yang gelisah terhadap dikotomi ilmu. Ia melihat bahwa pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum telah melahirkan krisis orientasi dalam pendidikan Islam. Dari kegelisahan tersebut, ia mengembangkan gagasan pendidikan Islam integratif: pendidikan yang memandang ilmu sebagai satu kesatuan yang bersumber dari Tuhan dan diabdikan untuk kemaslahatan manusia. Pandangan ini kemudian menemukan bentuk konkretnya dalam pengembangan kurikulum Ulul Albab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 

Kurikulum Ulul Albab bukan sekadar rancangan akademik, melainkan paradigma pendidikan. Berangkat dari konsep ulul albab dalam Al-Qur’an, Prof. Muhaimin merumuskan profil lulusan ideal: insan berakal jernih yang mampu memadukan dzikir, fikir, dan amal. Dalam praktiknya, paradigma ini diterjemahkan ke dalam integrasi ilmu keislaman dengan sains dan teknologi, penguatan bahasa asing, pembiasaan nilai spiritual, serta pembangunan kultur akademik religius. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada kedewasaan spiritual dan tanggung jawab sosial.

Pemikiran Prof. Muhaimin tidak berhenti pada ranah konseptual. Ia produktif menulis buku dan karya ilmiah yang menjadi rujukan nasional dalam bidang pendidikan Islam. Karya-karyanya seperti Paradigma Pendidikan Islam, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, Rekonstruksi Pendidikan Islam, dan Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam digunakan secara luas di berbagai perguruan tinggi dan program studi Pendidikan Agama Islam. Melalui tulisan-tulisan tersebut, ia membangun jembatan antara teori pendidikan, kebijakan kurikulum, dan praktik pembelajaran.

Kontribusi Prof. Muhaimin terhadap pendidikan Islam Indonesia bersifat nyata dan terukur. Gagasannya memengaruhi desain kurikulum PAI, pengembangan kelembagaan PTKIN, serta pembinaan dosen dan guru pendidikan Islam di berbagai daerah. UIN Malang sendiri kerap dijadikan model nasional pengembangan perguruan tinggi Islam integratif, sebuah fakta yang tidak dapat dilepaskan dari peran dan pemikiran Prof. Muhaimin.

Yang menjadikan Prof. Muhaimin istimewa bukan hanya keluasan ilmunya, tetapi juga konsistensinya menjaga etika akademik dan sikap moderat. Ia menolak ekstremisme keagamaan sekaligus kritis terhadap sekularisasi pendidikan. Baginya, pendidikan Islam harus hadir sebagai proses pemanusiaan manusia: mendidik akal, membina hati, dan menuntun tindakan.

Dalam lanskap pendidikan Islam Indonesia, Profesor Muhaimin adalah contoh nyata ulama intelektual yang bekerja dalam sunyi, tetapi meninggalkan jejak panjang. Melalui gagasan Ulul Albab, ia telah ikut menata arah pendidikan Islam agar tetap berakar pada wahyu, berpijak pada rasio, dan relevan dengan tantangan zaman. Esensi perjuangannya sederhana namun mendalam: menjadikan pendidikan Islam sebagai jalan pembentukan insan berilmu, beriman, dan beradab.