KIAI HASYIM MUZADI : SANTRI, ULAMA, DAN PEJUANG ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN


“Ilmu yang tinggi menemukan maknanya ketika menjadi jalan pengabdian dan menghadirkan rahmat bagi kehidupan.”

KH Ahmad Hasyim Muzadi adalah salah satu ulama penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama dan kehidupan Islam Indonesia. Ia lahir di Bangilan, Tuban, pada 8 Agustus 1944, dan wafat pada 16 Maret 2017. Perjalanan hidupnya menarik karena berangkat dari keluarga sederhana, ditempa pesantren, aktif dalam organisasi, kemudian dipercaya memimpin PBNU dan membawa gagasan Islam Indonesia ke tingkat internasional.

Latar Belakang Keluarga

Kiai Hasyim Muzadi lahir dari pasangan H. Muzadi dan Nyai Hj. Rumyati. Ia merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ayahnya adalah pedagang tembakau, sedangkan ibunya berjualan roti dan kue. Keluarganya sederhana, tetapi memiliki perhatian kuat terhadap pendidikan agama dan masa depan anak-anaknya.

Ayahnya pernah belajar di Pesantren Syekhona Cholil Bangkalan. Lingkungan keluarga juga dekat dengan tradisi NU. Kakaknya, KH Abdul Muchith Muzadi, kemudian menjadi salah satu tokoh penting NU dan turut memperkenalkan Hasyim muda kepada dunia organisasi dan perjuangan Nahdlatul Ulama.

Dari latar keluarga ini tampak sebuah pelajaran penting: kesederhanaan keluarga tidak menghalangi lahirnya cita-cita besar. Yang menentukan bukan semata-mata latar belakang sosial, tetapi nilai, pendidikan, dan ketekunan yang ditanamkan sejak dini.

Pendidikan

Pendidikan Kiai Hasyim memperlihatkan perpaduan antara pendidikan umum, pesantren, perguruan tinggi, dan pengalaman organisasi.

Ia mengawali pendidikan di Madrasah Diniyah Tuban, kemudian SD dan SMP Negeri 1 Tuban. Pada usia sekitar 12 tahun, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, dan menyelesaikannya pada 1962.

Setelah Gontor, ia masih melanjutkan rihlah ilmiah ke Pesantren Senori, Tuban, dan Pesantren Lasem, Jawa Tengah. Pada 1964–1969, ia menempuh pendidikan tinggi di IAIN Malang, yang kini menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pendidikan Kiai Hasyim tidak berhenti pada bangku sekolah. Sejak muda ia aktif dalam PMII, GP Ansor, dan NU. Pesantren memberinya fondasi keislaman; perguruan tinggi memperluas wawasan intelektual; sedangkan organisasi memberinya pengalaman membaca realitas umat.

Ilmu baginya bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diamalkan dan diabdikan.

Gagasan tentang NU

Kiai Hasyim melihat NU sebagai wadah pengabdian kepada umat, bukan sekadar organisasi dengan struktur kepengurusan. Karena itu, NU harus tetap berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi sekaligus mampu menjawab persoalan masyarakat dan perubahan zaman.

Perjalanan kepemimpinannya dimulai dari bawah: menjadi Ketua Ranting NU Bululawang, kemudian aktif di GP Ansor dan PMII, memimpin PCNU Malang, PWNU Jawa Timur, hingga dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU pada 1999–2004 dan 2004–2009/2010.

Dari perjalanan tersebut, NU dalam pemikiran Kiai Hasyim tidak hanya berbicara tentang keagamaan internal. NU memiliki tanggung jawab terhadap keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Karena itu, ia berusaha membawa pengalaman dan tradisi Islam Indonesia ke ruang global. Salah satu ikhtiarnya adalah mendirikan International Conference of Islamic Scholars (ICIS) sebagai forum ulama, akademisi, dan cendekiawan untuk membangun dialog serta memperkuat perdamaian dunia.

Gagasan tentang Islam

Gagasan yang sangat kuat dalam pemikiran Kiai Hasyim adalah Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Islam harus hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam tidak boleh tampil sebagai agama yang menakutkan, apalagi identik dengan kekerasan dan ekstremisme. Sebaliknya, Islam harus menghadirkan kedamaian, keadilan, kemaslahatan, dan peradaban.

Gagasan tersebut tidak hanya disampaikan dalam ceramah, tetapi diperjuangkan melalui berbagai forum nasional dan internasional. Melalui ICIS, misalnya, ia mempertemukan para ulama dan pemikir dari berbagai negara untuk membicarakan Islam, perdamaian, dan persoalan dunia.

Pada 2006, Kiai Hasyim memperoleh Doktor Honoris Causa bidang Peradaban Islam dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Orasi ilmiahnya berjudul Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Menuju Keadilan dan Peradaban Dunia, yang menunjukkan konsistensinya dalam mengembangkan gagasan Islam yang damai dan berorientasi pada kemaslahatan.

Dalam konteks NU, gagasan tersebut juga berarti bahwa Islam harus mampu hidup berdampingan dengan keberagaman, menjaga persaudaraan sesama Muslim, membangun hubungan yang baik dengan pemeluk agama lain, serta berkontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan dunia.

Refleksi

Kiai Hasyim Muzadi memberikan teladan bahwa perjalanan seorang santri tidak harus berhenti di pesantren. Ilmu pesantren dapat menjadi bekal untuk memasuki ruang akademik, organisasi, kebangsaan, bahkan pergaulan internasional.

Dari keluarga sederhana ia belajar nilai. Dari pesantren ia belajar ilmu. Dari organisasi ia belajar pengabdian. Dari NU ia belajar merawat umat dan bangsa. Dan melalui gagasan Islam Rahmatan lil ‘Alamin, ia mengajarkan bahwa Islam yang kuat adalah Islam yang mampu menghadirkan rahmat.