ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PERSPEKTIF ISLAM: TEKNOLOGI HARUS TETAP BERPIHAK PADA KEMASLAHATAN
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan. Teknologi yang dahulu hanya menjadi bagian dari cerita fiksi ilmiah kini telah hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai aplikasi digital. Di tengah pesatnya perkembangan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan: bagaimana Islam memandang kecerdasan buatan?
Pertanyaan tersebut dijawab secara menarik oleh Muhamad Basyrul Muvid dalam artikelnya berjudul Teknologi dalam Islam: Studi Analisis Fenomena Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Perspektif Islam. Artikel yang diterbitkan dalam Global Islamika: Jurnal Studi dan Pemikiran Islam ini mengulas AI dari sudut pandang nilai-nilai Islam melalui kajian kepustakaan yang memadukan konsep teknologi dengan prinsip-prinsip syariat.
Salah satu gagasan utama yang disampaikan penulis adalah bahwa Islam tidak pernah memusuhi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, perkembangan teknologi merupakan buah dari kemampuan berpikir yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia. Karena itu, AI dipandang sebagai hasil ijtihad intelektual yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, mulai dari dunia pendidikan, pelayanan kesehatan, ekonomi, hingga berbagai layanan publik.
Namun, artikel ini juga mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu identik dengan kemajuan peradaban. AI tetaplah sebuah alat. Nilainya sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa teknologi tersebut dikembangkan. Ketika digunakan untuk mempercepat pelayanan, membantu proses belajar, atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat, AI menjadi bagian dari upaya menghadirkan kemaslahatan. Sebaliknya, apabila dimanfaatkan untuk manipulasi informasi, penyebaran hoaks, pelanggaran privasi, atau tindakan yang merugikan manusia, maka teknologi tersebut justru menjauh dari nilai-nilai Islam.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa Islam menempatkan etika sebagai fondasi utama dalam pengembangan teknologi. Kecerdasan buatan tidak boleh menggeser peran manusia sebagai makhluk yang memiliki akal, hati nurani, dan tanggung jawab moral. AI memang mampu mengolah data dengan sangat cepat, tetapi ia tidak memiliki nilai, kebijaksanaan, maupun tanggung jawab sebagaimana manusia.
Artikel ini menjadi penting karena mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan pembangunan karakter. Kemajuan digital tanpa penguatan moral hanya akan melahirkan kecanggihan yang kehilangan arah. Oleh sebab itu, prinsip maqashid al-syariah dan kemaslahatan perlu menjadi kompas dalam setiap pengembangan teknologi agar inovasi benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Meskipun pembahasan dalam artikel masih bersifat konseptual dan belum didukung oleh kajian empiris mengenai implementasi AI di masyarakat Muslim, gagasan yang ditawarkan memberikan landasan filosofis yang kuat. Artikel ini menjadi pengingat bahwa Islam tidak menilai teknologi dari tingkat kecanggihannya, melainkan dari nilai manfaat, keadilan, dan tanggung jawab yang menyertainya.
Di era digital saat ini, diskusi mengenai AI tidak lagi cukup hanya membahas algoritma dan inovasi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali manusia yang berakhlak. Sebab, masa depan bukan ditentukan oleh seberapa cerdas mesin yang kita ciptakan, melainkan oleh seberapa bijaksana manusia menggunakannya.
Referensi
Muvid, M. B. (2023). Teknologi dalam Islam: Studi Analisis Fenomena Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) Perspektif Islam. Global Islamika: Jurnal Studi dan Pemikiran Islam, 2(1), 78–89. https://doi.org/10.5281/zenodo.8127202

0 Comments