Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan: Ulama, Intelektual, dan Arsitek Peradaban

"Ilmu menemukan kemuliaannya ketika menjadi jalan pengabdian bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan."

"Ilmu yang tidak melahirkan pengabdian hanya akan menjadi kebanggaan pribadi. Sebaliknya, ilmu yang diabdikan untuk kemaslahatan akan menjadi amal yang terus mengalir sepanjang zaman." Kalimat tersebut seakan menjadi cerminan perjalanan hidup Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan. Seluruh fase kehidupannya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan spiritualitas bukanlah tiga dunia yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan dalam membangun peradaban.

Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan lahir di Tuban, Jawa Timur, pada 10 Oktober 1938. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan menjunjung tinggi tradisi keilmuan Islam. Pendidikan pesantren membentuk karakter, akhlak, serta keluasan pandangannya. Masa belajarnya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, mempertemukannya dengan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama yang memadukan kedalaman ilmu agama, keluasan wawasan kebangsaan, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. Dari lingkungan inilah lahir sosok kiai yang mampu berdialog dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Berbeda dengan banyak ulama pada zamannya, Kiai Tolchah mampu menjembatani dunia pesantren dengan dunia akademik modern. Pendidikan formal yang ditempuhnya di bidang ilmu pemerintahan memperluas cakrawala berpikirnya mengenai tata kelola negara, administrasi publik, dan pembangunan nasional. Namun, keluasan ilmunya tidak pernah menjauhkan dirinya dari kehidupan masyarakat. Justru ilmu tersebut menjadi bekal untuk menghadirkan kepemimpinan yang berpihak kepada umat, berlandaskan moralitas agama, dan berorientasi pada kemajuan bangsa.

Perjalanan organisasi beliau dimulai sejak usia muda melalui Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama. Di berbagai jenjang kepemimpinan, beliau dikenal sebagai organisator yang tenang, bijaksana, dan mampu merangkul berbagai kalangan. Baginya, organisasi bukan sekadar wadah kekuasaan, melainkan sarana menggerakkan potensi umat untuk mewujudkan kemaslahatan bersama. Karena itulah beliau dipercaya mengemban berbagai amanah strategis di lingkungan Nahdlatul Ulama hingga tingkat nasional. Pemikiran-pemikirannya banyak mewarnai penguatan moderasi Islam, pendidikan pesantren, serta pengembangan sumber daya manusia Nahdliyin.

Salah satu pengabdian terbesar Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan adalah di bidang pendidikan tinggi. Beliau merupakan salah satu tokoh sentral dalam perjalanan Universitas Islam Malang (UNISMA). Sejak masa-masa awal pengembangannya, beliau meyakini bahwa perguruan tinggi Islam harus mampu melahirkan sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral, kedalaman spiritual, dan kepedulian sosial. Di bawah kepemimpinan dan arah pemikirannya, UNISMA berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Islam terkemuka di Indonesia yang memadukan keunggulan akademik dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Bagi beliau, universitas bukan sekadar tempat memperoleh gelar, melainkan pusat pembentukan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kepedulian beliau terhadap pendidikan tidak berhenti di perguruan tinggi. Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Almaarif Singosari, beliau berperan besar dalam memperkuat sistem pendidikan Islam yang telah dirintis oleh para ulama pendahulu, khususnya KH. Masjkur. Yayasan Almaarif Singosari berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang melayani ribuan peserta didik mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah. Dalam setiap kesempatan, beliau selalu menekankan bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, mencintai tanah air, serta memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsip inilah yang menjadikan Almaarif Singosari tetap kokoh memegang tradisi, namun terbuka terhadap inovasi pendidikan.

Di sisi lain, Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan juga memberikan perhatian besar terhadap pengembangan fungsi sosial masjid. Melalui Yayasan Masjid Sabilillah Malang, beliau turut meletakkan fondasi agar masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi berkembang sebagai pusat peradaban umat. Dalam pandangannya, masjid harus menjadi pusat pendidikan, dakwah, pembinaan keluarga, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan generasi muda. Pemikiran tersebut menjadi salah satu landasan berkembangnya Masjid Sabilillah Malang sebagai masjid yang menghadirkan berbagai layanan pendidikan formal, pendidikan Al-Qur'an, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat. Masjid menjadi ruang bertemunya nilai-nilai keislaman dengan kebutuhan nyata kehidupan masyarakat modern.

Pengabdian beliau mencapai tingkat nasional ketika Presiden KH. Abdurrahman Wahid mempercayakan amanah sebagai Menteri Agama Republik Indonesia. Jabatan tersebut dijalankan bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai bentuk pelayanan kepada seluruh umat beragama di Indonesia. Dalam kepemimpinannya, beliau berupaya memperkuat pendidikan Islam, meningkatkan kualitas madrasah dan pondok pesantren, memperluas dialog antarumat beragama, serta meneguhkan wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran, dan berwawasan kebangsaan. Kebijakan-kebijakannya mencerminkan keyakinan bahwa agama harus menjadi kekuatan pemersatu bangsa, bukan sumber perpecahan.

Sebagai intelektual, Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan juga meninggalkan berbagai karya tulis yang hingga kini menjadi rujukan dalam memahami pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah, pendidikan Islam, dan kehidupan kebangsaan. Salah satu karya pentingnya adalah Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi Nahdlatul Ulama, yang menjelaskan bagaimana tradisi keagamaan NU dibangun di atas keseimbangan antara teks, akal, tradisi, dan realitas sosial. Melalui karya-karyanya, beliau menunjukkan bahwa tradisi bukanlah penghalang kemajuan, melainkan fondasi yang memungkinkan perubahan berlangsung secara arif dan bertanggung jawab.

Di balik berbagai jabatan penting yang pernah diembannya, Kiai Tolchah tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana, santun, dan rendah hati. Rumahnya selalu terbuka bagi mahasiswa, dosen, santri, ulama, pejabat, maupun masyarakat biasa yang ingin berdiskusi atau meminta nasihat. Beliau meyakini bahwa kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari tingginya jabatan, tetapi dari manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain. Keteladanan tersebut menjadikan beliau dihormati lintas generasi dan lintas kalangan.

Jejak kehidupan Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan memperlihatkan kesinambungan perjuangan yang utuh. Di Nahdlatul Ulama beliau menguatkan tradisi keulamaan. Di Universitas Islam Malang beliau membangun tradisi akademik. Di Yayasan Pendidikan Almaarif Singosari beliau memperkokoh kaderisasi pendidikan Islam. Di Yayasan Masjid Sabilillah Malang beliau menghidupkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban. Di Kementerian Agama beliau menghadirkan kebijakan yang memperkuat harmoni kehidupan berbangsa. Seluruh pengabdian tersebut berpijak pada satu keyakinan bahwa ilmu, iman, dan amal harus berjalan bersama untuk menghadirkan kemaslahatan yang seluas-luasnya.

Pada 29 Mei 2019, Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan wafat di Kota Malang. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama, dunia pendidikan, masyarakat Malang, serta bangsa Indonesia. Namun, tokoh sejati tidak pernah benar-benar pergi. Gagasan, karya, lembaga yang dibangun, serta ribuan murid yang pernah memperoleh bimbingannya menjadi warisan yang terus hidup dan berkembang.

Prof. Dr. KH. Muhammad Tolchah Hasan telah menunjukkan bahwa membangun peradaban tidak selalu dilakukan melalui pidato-pidato besar, tetapi melalui kesungguhan mendidik manusia, menguatkan institusi, memelihara nilai-nilai agama, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Itulah sebabnya nama beliau akan selalu dikenang sebagai ulama, akademisi, negarawan, dan pendidik yang berhasil menjembatani pesantren, perguruan tinggi, masjid, dan negara dalam satu misi besar: membangun Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan bermartabat.