KH. Abdul Aziz Choiri (1941–2026): Kiai Pengayom Umat, Penjaga Tradisi, dan Guru Kehidupan
"Ulama boleh wafat, tetapi ilmu, keteladanan, dan jejak pengabdiannya akan terus hidup dalam hati umat."
Duka mendalam menyelimuti masyarakat Lamongan dan keluarga besar Nahdlatul Ulama atas wafatnya KH. Abdul Aziz Choiri, salah seorang ulama kharismatik yang selama puluhan tahun menjadi pengayom umat, pendidik generasi, sekaligus teladan dalam pengabdian. Pada Jumat, 26 Juni 2026, beliau berpulang ke hadirat Allah Swt. dalam usia 85 tahun. Kepergian beliau tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan santri, tetapi juga oleh masyarakat luas yang selama ini menjadikan beliau sebagai rujukan keilmuan, tempat meminta nasihat, dan figur pemersatu di tengah kehidupan sosial keagamaan Kabupaten Lamongan.
KH. Abdul Aziz Choiri lahir di Desa Tanggungan Prigel, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, pada tahun 1941. Beliau merupakan putra pasangan KH. Ahmad Choiri dan Nyai Kasni. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang sederhana namun kaya akan nilai-nilai keislaman. Dari ayah dan ibundanya, beliau belajar tentang pentingnya keikhlasan, kesederhanaan, kerja keras, dan pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan intelektual beliau ditempuh melalui berbagai pesantren, termasuk Pondok Pesantren Langitan yang telah melahirkan banyak ulama besar Nusantara. Di lingkungan pesantren, beliau dikenal sebagai santri yang tekun, bersahaja, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Tradisi keilmuan yang kuat membentuk karakter beliau sebagai ulama yang mendalam ilmunya, tetapi tetap rendah hati dalam bersikap.
Sekembalinya dari masa menuntut ilmu, beliau memilih jalan pengabdian. Pada tahun 1985, beliau mendirikan Pondok Pesantren Al-Ma'ruf Lamongan. Pesantren tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang melahirkan ribuan santri dan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Melalui pesantren, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan akhlak, dan menyiapkan generasi yang mampu berkontribusi bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Sebagai pengasuh pesantren, KH. Abdul Aziz Choiri dikenal memiliki pandangan pendidikan yang terbuka. Beliau memberikan keleluasaan kepada para santri untuk mengembangkan potensi masing-masing, baik melalui pendidikan agama maupun pendidikan umum. Banyak santri yang kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah, madrasah, perguruan tinggi, dan berbagai bidang profesi, tanpa kehilangan identitas kepesantrenannya. Bagi beliau, pendidikan adalah sarana untuk melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat.
Selain mengabdikan diri di dunia pendidikan, beliau juga aktif dalam organisasi keagamaan. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau dipercaya memegang berbagai amanah penting, mulai dari Rais Syuriyah hingga Mustasyar PCNU Lamongan. Keulamaan dan kebijaksanaannya juga mengantarkan beliau menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lamongan selama beberapa periode. Dalam berbagai forum, beliau selalu tampil sebagai sosok yang menyejukkan, mengedepankan musyawarah, serta mampu merangkul berbagai kalangan.
Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mampu menjembatani dunia pesantren, organisasi, dan pemerintahan. Saat dipercaya menjadi anggota dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lamongan, beliau tetap menjaga marwah seorang kiai. Politik dipandang sebagai ruang pengabdian, bukan alat untuk mencari kehormatan. Karena itu, beliau dihormati oleh kawan maupun lawan politik, sebab yang diperjuangkan bukan kepentingan pribadi, melainkan kemaslahatan umat.
Kesaksian tentang Sosok KH. Abdul Aziz Choiri
Banyak orang mengenang beliau sebagai pribadi yang teduh, sederhana, dan penuh kasih sayang. Para santri mengenang beliau sebagai guru yang tidak hanya mengajar dengan lisan, tetapi juga dengan keteladanan hidup. Nasihatnya lembut, namun membekas dalam hati. Tegurannya halus, tetapi mampu menyadarkan.
Para tokoh masyarakat mengenang beliau sebagai figur pemersatu. Di tengah perbedaan pandangan yang sering muncul dalam kehidupan sosial dan politik, beliau selalu hadir membawa kesejukan. Beliau lebih memilih jalan dialog daripada konfrontasi, lebih mengutamakan persaudaraan daripada pertentangan.
Bagi para pengurus NU dan MUI, KH. Abdul Aziz Choiri adalah teladan kepemimpinan yang bijaksana. Beliau tidak pernah menempatkan dirinya di atas orang lain. Sikap tawaduk, kesediaan mendengarkan, dan keluasan pandangan membuat setiap orang merasa dihargai ketika berinteraksi dengan beliau.
Salah satu kesaksian yang sering muncul dari para santri adalah bagaimana beliau memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk berkembang. Beliau tidak membatasi pilihan pendidikan para santri. Sebaliknya, beliau mendorong mereka untuk belajar setinggi mungkin, memasuki berbagai bidang profesi, dan berkontribusi bagi masyarakat. Dalam pandangan beliau, santri harus mampu menjadi bagian dari solusi bagi berbagai persoalan umat dan bangsa.
Masyarakat sekitar pesantren juga mengenang beliau sebagai sosok yang dekat dengan rakyat kecil. Rumah beliau terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahim, meminta doa, ataupun berkonsultasi. Tidak sedikit warga yang merasakan manfaat dari perhatian, bimbingan, dan kepedulian beliau terhadap persoalan-persoalan kehidupan mereka.
Pesan Kehidupan yang Ditinggalkan
Melalui perjalanan hidupnya, KH. Abdul Aziz Choiri mewariskan sejumlah nilai penting. Pertama, bahwa ilmu harus dicari dengan kesungguhan dan diamalkan dengan keikhlasan. Kedua, bahwa kedudukan dan jabatan hanyalah amanah yang harus digunakan untuk melayani, bukan dilayani. Ketiga, bahwa persatuan umat jauh lebih penting daripada mempertajam perbedaan. Keempat, bahwa pesantren harus tetap teguh menjaga tradisi ulama sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.
Beliau juga mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain. Prinsip inilah yang tampak nyata dalam seluruh perjalanan hidup beliau.
Jejak yang Tak Akan Hilang
Wafatnya KH. Abdul Aziz Choiri pada Jumat, 26 Juni 2026, menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang ulama pejuang. Namun sesungguhnya, ulama tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tetap hidup melalui ilmu yang diajarkan, santri yang dididik, lembaga yang dibangun, dan nilai-nilai yang diwariskan.
Pondok Pesantren Al-Ma'ruf, ribuan alumni yang pernah belajar kepada beliau, serta masyarakat yang pernah merasakan sentuhan dakwahnya, menjadi bukti bahwa jejak pengabdian KH. Abdul Aziz Choiri akan terus mengalir sebagai amal jariyah yang tidak terputus.
Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal saleh beliau, melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, serta menempatkan beliau bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.
Al-Fatihah untuk Romo Yai KH. Abdul Aziz Choiri.
"Orang-orang yang berilmu tidak pernah benar-benar wafat. Mereka tetap hidup dalam ilmu, karya, dan keteladanan yang diwariskannya kepada umat."


0 Comments