PENDIDIKAN QARYAH THAYYIBAH

"Di saat banyak sekolah berlomba mencetak nilai, Qaryah Thayyibah memilih membentuk manusia."

Di tengah arus pendidikan yang semakin terstandarisasi, sekolah sering kali terjebak dalam rutinitas administratif, tuntutan kurikulum, dan orientasi capaian akademik semata. Peserta didik dinilai berdasarkan angka-angka, guru dibebani target penyelesaian materi, sementara ruang bagi tumbuhnya kreativitas, kemandirian, dan kesadaran kritis sering kali menjadi semakin sempit. Menyikapi hal demikian, buku Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah karya Ahmad Bahruddin, yang diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta, hadir sebagai oase pemikiran sekaligus praktik nyata tentang kemungkinan lain dalam dunia pendidikan Indonesia.

Buku ini tidak sekadar menawarkan kritik terhadap pendidikan formal, tetapi juga menyajikan pengalaman empiris tentang bagaimana sebuah komunitas kecil di Kalibening, Salatiga, berhasil membangun model pendidikan yang berbeda. Melalui narasi yang reflektif dan kaya pengalaman lapangan, Ahmad Bahruddin mengajak pembaca melihat pendidikan bukan sebagai proses transfer pengetahuan semata, melainkan sebagai proses pembentukan manusia yang merdeka dan bertanggung jawab atas kehidupannya.

Qaryah Thayyibah lahir dari kegelisahan terhadap sistem pendidikan yang dianggap semakin jauh dari kebutuhan riil masyarakat. Banyak anak desa yang mengalami kesulitan mengakses pendidikan berkualitas, sementara sekolah formal sering kali gagal menjawab tantangan kehidupan yang mereka hadapi sehari-hari. Dari kegelisahan itulah muncul gagasan untuk membangun sebuah ruang belajar yang lebih demokratis, partisipatif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Hal paling menarik dari buku ini adalah perubahan cara pandang terhadap peserta didik. Dalam praktik pendidikan konvensional, siswa sering diposisikan sebagai objek yang harus menerima materi dari guru. Sebaliknya, di Qaryah Thayyibah, peserta didik ditempatkan sebagai subjek pembelajaran yang memiliki hak menentukan apa yang ingin dipelajari, bagaimana cara mempelajarinya, dan untuk tujuan apa pengetahuan tersebut digunakan. Guru tidak lagi menjadi pusat segala pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses pencarian dan penemuan makna oleh peserta didik.

Paradigma ini mengingatkan kita pada pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan. Freire mengkritik model pendidikan “gaya bank” yang memandang siswa sebagai wadah kosong yang harus diisi. Menurutnya, pendidikan yang sejati harus mampu membangun kesadaran kritis sehingga peserta didik dapat memahami realitas sosial dan mengambil peran dalam mengubahnya. Apa yang dilakukan Qaryah Thayyibah tampak menjadi manifestasi konkret dari gagasan tersebut dalam konteks masyarakat pedesaan Indonesia.

Dalam buku ini, Ahmad Bahruddin menunjukkan bahwa belajar tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas. Lingkungan sekitar menjadi laboratorium kehidupan yang menyediakan sumber belajar tidak terbatas. Sawah, pasar, sungai, kegiatan ekonomi masyarakat, hingga persoalan sosial yang dihadapi warga dapat menjadi bahan pembelajaran yang kaya makna. Pengetahuan tidak dipisahkan dari realitas kehidupan, tetapi justru tumbuh dari interaksi langsung dengan realitas tersebut.

Pendekatan seperti ini menjadikan proses belajar terasa lebih hidup dan relevan. Peserta didik tidak sekadar menghafal konsep-konsep abstrak, melainkan memahami bagaimana pengetahuan bekerja dalam kehidupan nyata. Mereka belajar memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, serta mengambil keputusan secara mandiri. Kompetensi semacam ini justru menjadi kebutuhan utama di abad ke-21 yang ditandai oleh perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Keunggulan lain yang ditawarkan buku ini adalah penekanannya pada keterlibatan komunitas. Pendidikan tidak ditempatkan sebagai tanggung jawab sekolah semata, melainkan sebagai urusan bersama antara peserta didik, keluarga, dan masyarakat. Hubungan yang erat antara sekolah dan komunitas menciptakan ekosistem belajar yang lebih kaya dan kontekstual. Dalam perspektif ini, sekolah bukan institusi yang berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan bagian integral dari kehidupan sosial itu sendiri.

Meski demikian, buku ini tidak dapat dilepaskan dari sejumlah pertanyaan kritis. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana model seperti Qaryah Thayyibah dapat direplikasi pada konteks yang berbeda. Keberhasilan sebuah pendidikan alternatif sering kali sangat dipengaruhi oleh karakteristik komunitas, kepemimpinan, dan budaya lokal yang mendukung. Karena itu, transformasi gagasan ini ke dalam sistem pendidikan yang lebih luas memerlukan adaptasi yang cermat.

Selain itu, buku ini lebih banyak menyoroti proses dan filosofi pendidikan dibandingkan evaluasi hasil belajar secara kuantitatif. Pembaca yang terbiasa dengan indikator akademik formal mungkin akan bertanya mengenai capaian peserta didik setelah mengikuti pendidikan di Qaryah Thayyibah. Namun, justru di sinilah letak tantangan sekaligus kekuatan buku ini. Ahmad Bahruddin mengajak pembaca untuk mempertanyakan kembali ukuran keberhasilan pendidikan yang selama ini terlalu didominasi oleh angka dan nilai ujian.

Di tengah berbagai diskursus mengenai Merdeka Belajar, pendidikan karakter, dan transformasi pendidikan nasional, buku Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah terasa semakin relevan untuk dibaca. Jauh sebelum berbagai istilah tersebut populer, komunitas ini telah mempraktikkan pembelajaran yang memberi ruang bagi kebebasan berpikir, partisipasi aktif, dan kemandirian peserta didik. Buku ini mengingatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu lahir dari ruang-ruang akademik yang megah atau kebijakan pemerintah yang besar. Kadang-kadang, perubahan justru bermula dari sebuah desa kecil yang berani mempertanyakan cara lama dan mencoba jalan baru.

Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah bukan sekadar kisah tentang sebuah sekolah alternatif. 

Buku ini merupakan refleksi mendalam tentang makna pendidikan itu sendiri. Ia mengajak kita bertanya: apakah pendidikan hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang mampu menjawab soal ujian, ataukah membentuk manusia yang mampu memahami dirinya, masyarakatnya, dan masa depannya?

Bagi para guru, mahasiswa, pemerhati pendidikan, hingga pengambil kebijakan, buku ini menawarkan pelajaran berharga bahwa pendidikan yang memanusiakan manusia bukanlah utopia. Ia dapat diwujudkan ketika sekolah berani membuka diri terhadap kehidupan, memberi kepercayaan kepada peserta didik, dan menjadikan masyarakat sebagai mitra utama dalam proses pembelajaran. Dari sebuah desa bernama Kalibening, Ahmad Bahruddin menunjukkan bahwa pendidikan yang membebaskan bukan hanya mungkin, tetapi telah nyata berlangsung dan terus menginspirasi hingga hari ini.


Identitas Buku

Judul: Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah

Penulis: Ahmad Bahruddin

Penerbit: LKiS

Tahun Terbit: 2007

Kota Terbit: Yogyakarta

Jumlah Halaman: xix + 286 halaman

ISBN: 978-979-2552-60-7