MELACAK JEJAK TUHAN DALAM SAINS

Sains membantu kita memahami alam. Agama membantu kita memahami makna. Dan manusia membutuhkan keduanya agar pengetahuan tidak kehilangan arah.

Buku Melacak Jejak Tuhan dalam Sains: Tafsir Islami atas Sains karya Mehdi Golshani mengajak pembaca memasuki wilayah yang menarik: perjumpaan antara sains, agama, dan filsafat. Buku ini tidak sekadar bertanya tentang apa yang ditemukan sains, tetapi juga mengajak kita merenungkan apa arti pengetahuan ilmiah bagi kehidupan manusia.

Golshani adalah seorang fisikawan sekaligus pemikir Muslim. Latar belakang tersebut membuat pembahasannya tentang agama dan sains terasa berbeda. Ia tidak menempatkan agama dan sains sebagai dua dunia yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berdialog dalam pencarian manusia terhadap kebenaran.

Salah satu gagasan penting buku ini adalah bahwa sains tidak sepenuhnya bebas dari asumsi filosofis. Ketika seorang ilmuwan melakukan penelitian, ia memang menggunakan data, observasi, eksperimen, dan penalaran. Namun, di balik aktivitas tersebut terdapat pertanyaan yang lebih mendasar tentang realitas, kebenaran, manusia, dan tujuan pengetahuan.

Karena itu, menurut Golshani, persoalan sains tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana alam bekerja. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: mengapa alam memiliki keteraturan sehingga dapat dipahami oleh manusia?

Dalam perspektif Islam, keteraturan alam dapat menjadi jalan untuk mengenali kebesaran Tuhan. Alam bukan sekadar objek penelitian, melainkan juga tanda-tanda yang mengundang manusia untuk berpikir dan merenung. Dengan demikian, aktivitas ilmiah dapat memiliki dimensi spiritual.

Namun, Golshani tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai buku teks sains. Ini merupakan salah satu hal menarik dari pemikirannya. Al-Qur'an tidak harus dipaksakan untuk menjelaskan setiap teori fisika, biologi, atau astronomi. Al-Qur'an memberikan pandangan dunia dan orientasi nilai yang dapat membimbing manusia dalam memahami serta menggunakan ilmu pengetahuan.

Di sinilah gagasan Golshani menjadi penting. Persoalan utama hubungan Islam dan sains bukan semata-mata bagaimana menemukan “ayat yang sesuai dengan teori ilmiah”, melainkan bagaimana ilmu pengetahuan ditempatkan dalam kerangka pandangan hidup yang benar.

Sains memberikan manusia kemampuan untuk memahami dan mengubah dunia. Tetapi kemampuan tersebut tidak otomatis menentukan untuk apa pengetahuan itu digunakan. Teknologi dapat membawa kemaslahatan, tetapi juga dapat digunakan untuk merusak. Karena itu, pengetahuan membutuhkan nilai dan tanggung jawab.

Buku ini juga mengingatkan bahwa ilmu dalam tradisi Islam memiliki cakupan yang luas. Mempelajari alam dapat menjadi bagian dari aktivitas intelektual yang bernilai religius ketika pengetahuan tersebut mengantarkan manusia pada kesadaran tentang keteraturan ciptaan dan tanggung jawabnya sebagai manusia.

Gagasan tersebut menarik jika dibawa ke dalam dunia matematika. Matematika mengajarkan manusia menemukan pola, keteraturan, hubungan, struktur, dan konsistensi. Ketika seorang siswa menemukan sebuah pola matematika, sesungguhnya ia tidak hanya sedang belajar menghitung. Ia sedang belajar membaca keteraturan.

Dari sini pembelajaran matematika dapat bergerak lebih jauh. Kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana mendapatkan jawaban?” tetapi juga “Mengapa pola itu berlaku?”, “Apa maknanya?”, dan “Untuk apa pengetahuan itu digunakan?” Matematika akhirnya tidak berhenti sebagai kumpulan rumus, tetapi menjadi latihan berpikir.

Buku Golshani memberikan inspirasi bahwa nalar dan iman tidak harus dipisahkan. Sains dapat membantu manusia memahami alam, sedangkan agama memberikan orientasi tentang bagaimana manusia memaknai dan menggunakan pengetahuan tersebut.

Meski demikian, buku ini bukan bacaan populer yang ringan. Beberapa bagian membawa pembaca pada diskusi filsafat ilmu dan metafisika sehingga membutuhkan konsentrasi. Bagi pembaca yang menginginkan jawaban sederhana tentang “hubungan Islam dan sains”, buku ini mungkin terasa cukup filosofis.

Justru karena itulah buku ini menarik. Golshani tidak buru-buru memberikan jawaban. Ia mengajak pembaca mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar tentang hakikat ilmu dan tujuan pencarian pengetahuan.

Melacak Jejak Tuhan dalam Sains mengajak kita melihat sains dengan cara yang lebih luas. Sains tidak hanya berbicara tentang fakta, tetapi juga dapat membuka ruang refleksi. Tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang nilai. Tidak hanya tentang nalar, tetapi juga tentang makna.

Barangkali di situlah “jejak Tuhan” yang dimaksud Golshani: bukan Tuhan yang dicari di dalam rumus, melainkan kesadaran tentang Tuhan yang tumbuh ketika manusia menggunakan akalnya untuk membaca keteraturan alam.

Judul: Melacak Jejak Tuhan dalam Sains: Tafsir Islami atas Sains

Judul asli: Issues in Islam and Science

Penulis: Mehdi Golshani

Penerjemah: Ahsin Muhammad

Penerbit: Mizan, Bandung

Tahun: 2004

Tebal: xxiii + 149 halaman

ISBN: 979-433-370-0