KH. SOEFYAN ABDUL WAHAB, ULAMA VISIONER YANG MEWARISKAN PENDIDIKAN

Beliau menanam ilmu, membangun pendidikan, dan mewariskan visi. Tugas kita bukan sekadar mengenangnya, tetapi melanjutkan perjuangannya.

Mengenang KH. Soefyan Abdul Wahab berarti mengenang seorang ulama yang tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan pesantren, tetapi juga menanamkan gagasan besar tentang pendidikan dan masa depan umat. Sosoknya menjadi bagian penting dalam perjalanan Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar, Simo, Sungelebak, Karanggeneng, Lamongan. Jejak pemikiran dan perjuangannya terus dirasakan melalui perkembangan lembaga pendidikan yang lahir dan tumbuh dari lingkungan pesantren tersebut.

KH. Soefyan Abdul Wahab menerima amanah memimpin Matholi’ul Anwar pada 17 Juli 1935. Pada saat itu beliau masih berusia muda. Namun, usia tidak menghalanginya untuk memikul tanggung jawab besar sebagai pengasuh pesantren. Menariknya, kepemimpinan tersebut tidak membuat beliau berhenti belajar. Beliau tetap tekun menimba ilmu kepada para kiai dan mengikuti tradisi pengajian secara sorogan. Keteladanan ini memperlihatkan bahwa bagi beliau, menjadi pemimpin bukan berarti telah selesai belajar. Justru seorang pemimpin harus terus belajar agar mampu menjalankan amanah dengan lebih baik.

Di bawah kepemimpinan KH. Soefyan, Matholi’ul Anwar mengalami perkembangan dalam bidang pendidikan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pembelajaran agama, tetapi berkembang menjadi lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan lebih luas kepada masyarakat. Pengembangan madrasah menjadi bagian penting dari perjuangan tersebut. Langkah ini menunjukkan kemampuan beliau dalam membaca kebutuhan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren.

Bagi KH. Soefyan Abdul Wahab, pendidikan merupakan jalan pengabdian. Pendidikan tidak sekadar bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki akhlak, tanggung jawab, kemandirian, dan kepedulian sosial. Karena itu, pengembangan lembaga pendidikan dipandang sebagai bagian dari perjuangan dakwah. Pesantren harus mampu melahirkan manusia berilmu sekaligus manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.

Visi beliau bahkan melampaui pendidikan dasar dan menengah. Gagasan tentang pentingnya pendidikan tinggi telah muncul dari lingkungan Matholi’ul Anwar sejak dekade 1970-an. Gagasan tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya hingga berkembang menjadi Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan. Sejarah ini memperlihatkan bahwa gagasan besar tidak selalu harus selesai pada masa kehidupan pencetusnya. Ada gagasan yang sengaja ditanam sebagai benih, kemudian dirawat oleh generasi berikutnya hingga tumbuh menjadi sebuah lembaga yang memberikan manfaat lebih luas.

Dalam konteks itulah KH. Soefyan Abdul Wahab layak dikenang sebagai ulama visioner. Beliau tidak hanya memikirkan bagaimana pesantren bertahan, tetapi juga bagaimana pendidikan dapat berkembang dan menjawab tantangan masyarakat. Beliau mampu melihat bahwa masa depan umat sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. Karena itu, membangun lembaga pendidikan berarti membangun manusia, dan membangun manusia berarti menyiapkan masa depan masyarakat.

Warisan pemikiran beliau juga tampak dalam perhatian terhadap pendidikan karakter. Karya beliau yang dikenal sebagai Pesan Hidup Sehari-hari mengandung nilai-nilai yang tetap relevan hingga sekarang, seperti keikhlasan, tanggung jawab, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang beliau perjuangkan bukan hanya pendidikan untuk mengetahui, tetapi pendidikan untuk menjadi manusia yang bernilai.

Pesan tersebut semakin penting di tengah perubahan zaman. Ketika teknologi digital dan kecerdasan buatan berkembang sangat cepat, manusia semakin mudah memperoleh informasi dan pengetahuan. Namun, kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan manusia yang berkarakter. Pengetahuan membutuhkan nilai, kecerdasan membutuhkan kebijaksanaan, dan kemajuan membutuhkan tanggung jawab. Dalam konteks inilah pemikiran KH. Soefyan Abdul Wahab tetap menemukan relevansinya.

KH. Soefyan Abdul Wahab wafat pada 20 Januari 1983. Namun, wafatnya beliau tidak mengakhiri perjuangan yang telah dirintis. Matholi’ul Anwar terus berkembang, para santri dan alumni meneruskan pengabdian, dan gagasan pendidikan yang pernah ditanamkan terus menemukan bentuknya dalam perkembangan lembaga pendidikan. Nama beliau juga diabadikan sebagai Masjid KH. Soefyan Abdul Wahab di lingkungan Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan perjuangannya.

Karena itu, haul KH. Soefyan Abdul Wahab tidak semestinya dimaknai hanya sebagai kegiatan mengenang seorang tokoh yang telah wafat. Haul merupakan momentum untuk membaca kembali nilai perjuangan dan meneruskannya dalam konteks zaman yang berbeda. Mengenang beliau berarti menghidupkan kembali semangat belajar, membangun pendidikan, menjaga nilai, mengabdi kepada masyarakat, dan berani memikirkan masa depan.

KH. Soefyan Abdul Wahab telah memberikan teladan bahwa seorang ulama tidak hanya bertugas menjaga tradisi, tetapi juga harus mampu membaca zaman dan menyiapkan masa depan. Beliau menanam gagasan melalui pendidikan, membangun lembaga dengan ketekunan, dan mewariskan nilai melalui keteladanan. Kini, tugas generasi penerus bukan hanya menjaga apa yang telah diwariskan, tetapi membuat warisan itu terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Beliau telah wafat, tetapi gagasannya terus hidup. Beliau telah meninggalkan dunia, tetapi jejak pendidikannya terus berjalan. Dan selama ilmu terus diajarkan, karakter terus dibentuk, serta pendidikan terus menjadi jalan pengabdian, selama itu pula jejak KH. Soefyan Abdul Wahab akan tetap hidup di tengah generasi.